Tuesday, September 30, 2008

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429H
1-2 OKTOBER 2008
MOHON MAAF LAHIR & BATIN

AYO MUDIK KE KAMPUNG HALAMAN!

Mumpung lagi musim mudik, travel tips kali ini topiknya tentang heritage travel. Heritage travel merupakan perjalanan ke suatu kawasan, tempat, atau situs bersejarah yang berkaitan dengan asal-usul si pejalan.Mudik sejatinya juga adalah tindakan kembali ke asal. Semua orang pernah mudik karena kita semua berasal dari suatu tempat. Entah dulu nenek moyang, orang tua, atau bahkan kita sendiri mengarungi lautan atau hanya melintasi batas wilayah daratan untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Kembali ke heritage travel. Sekarang ini, semakin banyak traveler menemukan akar dari garis darah mereka melalui heritage travel. Perjalanan jenis ini menggabungkan kegairahan, relaksasi, kaitan antara liburan dengan pendidikan sejarah. Namun ini bukan pelajaran sejarah biasa, dimana Anda akan tertidur setelah memasuki bab kedua. Ketika subyek pelajarannya adalah tentang sejarah keluarga Anda, Anda akan merasa nikmat dan nyaman duduk di deretan terdepan.Saat menemukan kembali akar keluarga melalui heritage travel, Anda bisa terharu, terutama bila latar belakang budaya Anda berbeda dengan pasangan Anda. Berbagi heritage dengan pasangan baru atau dengan anak-anak dapat membuat semakin banyak orang melewatkan kesenangan di taman-taman hiburan dunia dan berlayar menuju tanah nenek moyang mereka.

Beragam wajah heritage tourism

Heritage tourism adalah perjalanan untuk menikmati tempat, monumen atau museum dan relikwi yang bercerita tentang orang, budaya maupun ras. Ceritanya seringkali mewakili gambaran masa silam atau menjelajahi perjalanan yang melelahkan dari terbentuknya kesadaran nasional sejak masih berbentuk primordial awal hingga terbentuknya negara moderen seperti sekarang. Melalui cerita itu, travelers memahami cara pandang nenek moyang mereka, simbol-simbol di artefak dan segala potongan yang membentuk identitas budaya mereka.Namun heritage travel bukan hanya soal menemukan akar keturunan seseorang. Sering kali, itu juga merupakan perjalanan ke masa yang baru saja berlalu untuk mengalami kejadian-kejadian yang membentuk lingkungan sekitar kita sekarang.

Di Indonesia, perjalanan semacam ini mungkin belum populer. Di Amerika Serikat (AS) heritage travel amat populer. Para travelers mencari ikon sejarah yang tampak jelas -tempat terjadinya peperangan, tempat terjadinya protes hak-hak sipil- yang penting dalam pembangunan suatu bangsa.Negara-negara bagian di AS menangkap peluang adanya heritage travel yang semakin populer itu. Banyak negara bagian telah membuat program turisme cultural heritage yang didisain untuk mempromosikan situs-situs tertentu dan monumen di negara bagian tersebut. Data terakhir, ada lebih dari 74,000 area bersejarah, taman nasional, dan landmark yang berkaitan dengan heritage travel yang telah diidentifikasi untuk kemudian dipreservasi dan kemudian siap untuk dikunjungi di negara itu.

Heritage travel trennya mulai mendunia. Banyak negara di dunia telah membuat situs heritage mereka sebagai prioritas. Karena heritage tourism menggunakan aset nasional -sejarah, budaya dan sumber daya alam- yang sudah ada, negara-negara itu menyadari bahwa dengan mengembangkan yang sudah ada akan memberikan potensi keuntungan ketimbang harus menciptakan sesuatu yang baru untuk menarik turis. Kebijakan itu berjalan baik untuk situs-situs tersebut, karena prestise yang muncul sehubungan dengan rencana nasional meningkatkan nilai situs tersebut sebagai sumber budaya yang berharga, sehingga menjamin restorasi dan preservasi yang dibutuhkan agar situs-situs itu dapat dinikmati terus oleh generasi-generasi mendatang.

Tempat-tempat tujuan heritage travel

Ada 192 negara di dunia, masing-masing dengan sejarah yang unik dan berbeda. Ada begitu banyak situs heritage bagi para traveler yang tertarik menemukan kembali akar keluarga mereka. Mengunjungi negara asal garis keturunan Anda merupakan bentuk yang paling umum dari heritage travel. Anda dapat melihat secara langsung kebiasaan-kebiasaan dan lingkungan tempat nenek moyang Anda berasal dengan mengunjungi museum, istana-istana, tempat pertempuran dan pedesaaan.Di Amerika Serikat, misalnya, banyak traveler dari suku minoritas memilih untuk berada di dalam perbatasan guna menyelidiki masa lalu mereka. Para Afro-Amerika menghidupkan kembali gambaran-gambaran -baik kemenangan maupun derita- tentang asal-usul mereka dengan mengunjungi situs-situs bersejarah yang menceritakan secara detil kehidupan para budak dan pergerakan hak-hak sipil. Dalam membantu upaya-upaya itu, banyak negara bagian di selatan meresmikan situs-situs heritage African-American. Tennessee secara aktif mempromosikan Museum Nasional Hak-hak Sipil di Memphis, sementara Colonial Williamsburg di Virginia baru-baru ini membuka Great Hopes Plantation (Perkebunan Harapan Agung)- sebuah replika realistis dari perkebunan abad ke 28 lengkap dengan budak-budak perkebunan kulit hitam dan gubuk-gubuk mungil dimana mereka tinggal.

Para traveler Hispanik juga menemukan dampak besar yang ditinggalkan nenek moyang mereka. Sekarang ini traveler Hispanik berkelompok mengunjungi situs budaya Hispannik, termasuk San Antonio Missions, De Soto National Memorial Park dekat Tanjung Tampa dan St. Augustine, kota tertua di America.Anda tertarik untuk melakukan perjalanan yang sama ke tempat asal Anda? Yang pasti, mengubah acara liburan menjadi pelajaran sejarah budaya dapat menjadi pengalaman berharga yang akan memberikan sentuhan tak terlupakan pada petualangan Anda. Selamat kembali ke asal!

(Travelsense.org)

LAYANAN PLUS WISATAWAN LEBARAN DI JOGJAKARTA

YOGYAKARTA, RABU - Badan Pariwisata Daerah (Baparda) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyiapkan Pelayanan Informasi Wisatawan (PIW) khususnya bagi wisatawan lebaran, yang rencananya beroperasi mulai 28 September hingga 4 Oktober 2008.

"PIW yang digelar untuk ketiga kalinya ini melayani wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB," kata Humas Baparda DIY Drs Nur Hidayat di Yogyakarta, Rabu (24/9). Menurut dia, adanya PIW sejak 2006 tersebut disambut positif warga masyarakat khususnya wisatawan yang ingin mendapatkan informasi tentang obyek wisata khususnya yang memiliki daya tarik tersendiri di Yogjakarta.

Melalui layanan informasi wisatawan ini, kata dia diharapkan ikut menumbuhkan citra positif pariwisata Yogyakarta di mata wisatawan. Apalagi saat musim libur lebaran, dipastikan jalan-jalan utama khususnya di kota Yogyakarta seperti Malioboro dan pusat perbelanjaan akan diserbu warga dari luar daerah, sehingga mereka memerlukan informasi yang benar. "Selain itu, melalui layanan informasi tersebut para wisatawan akan mendapatkan tambahan informasi yang detail dan lengkap mengenai berbagai obyek serta destinasi wisata di Yogjakarta," katanya.

Ia menyebutkan wisatawan maupun pemudik yang sedang berada di Yogyakarta saat libur lebaran bisa menghubungi PIW di kantor Baparda DIY Jalan Malioboro Nomor 56 Yogyakarta atau telp (0274) 587486.

MBK
Sumber : Antara

Friday, September 26, 2008

Wednesday, September 24, 2008

IJEN CRATER

Behind the beautiful panorama of Mount Ijen, with one of the world's largest craters, in Bondowoso, East Java, lies a health hazard to the surrounding community.

At least 50,000 people live in an area threatened by acidic water from the crater lake permeating through their wells.
Badawi, 45, a sulfur miner at the crater -- better known as Kawah Ijen -- savored a cup of coffee at a food stall in Paltuding village, Bondowoso regency, before setting off to work.Beside his coffee cup stood a bottle of water from a well to drink on the 4-kilometer hike to collect sulfur from the crater.

"People say the well water is toxic because of acid from the lake. But most residents, including myself, don't care about the effects of the water, as we have so far remained healthy," he told The Jakarta Post recently.Badawi from Bulusan village, Kalipuro district, Banyuwangi regency, has lived in a sulfur workers camp in Paltuding for five years, together with hundreds of sulfur miners. Research conducted by Soegijapranata Catholic University, Semarang, Central Java, in 2007 showed that acid water in the crater lake had infiltrated and contaminated surrounding rivers and wells. As a result, local people were affected by tooth decay and bone degeneration, while agricultural production was reduced.

As many as 3,564 hectares of paddy fields have been irrigated with polluted water, affecting 50,000 villagers across three regencies. A report from Soegijapranata University said that most residents around the Banyupahit and Banyuputih rivers had been informed of the dangers of contaminated water. The study, which was supported by Holland's Untrecht University, Netherlands Open University and the Vrije University of Amsterdam, showed that the acidic water of Kawah Ijen had caused many people to suffer from dental fluorosis, a condition caused by an excessive intake of fluoride in drinking water.

In a discussion at the 10 November Technology Institute of Surabaya (ITS), head of the Vulcanology and Geological Disaster Mitigation Center, Surono, said the consumption of lake water infiltrated through the wells caused abnormal human growth and shortened life expectancy. He made a recommendation to the East Java governor and local authorities to build a tunnel channeling the crater stream to the sea, 42 kilometers away. He has yet to receive a response.

For both local and foreign tourists, Kawah Ijen is a unique attraction. It is one of the few volcanoes in the country that has a crater lake. Of the country's more than 700 mountains, only a small percentage have such lakes, including Mount Rinjani (3,726 meters above sea level) in Lombok, West Nusa Tenggara, and the Kelimutu range in Flores. Visitors are prohibited from approaching the crater, where a lava dome has emerged as a "mini Kelud", measuring 700 square meters, with a 130-meter diameter. According to vulcanologists, the Kelud dome is a unique phenomenon in Indonesia's volcanic history and still has the potential for a devastating eruption. Kawah Ijen is easily accessible by motor vehicle -- the best route is via Bondowoso and eastward through Wonosari to Sempol village and finally via Paltuding village. This route covers 70 kilometers of smooth asphalt roads. It can also be reached through the town of Banyuwangi -- only 38 kilometers to the west of the villages of Licin, Jambu and Paltuding -- but the roads are quite steep.

For a morning climb, tourists can spend the night at the coffee estate guest house of PTP Nusantara XII state company in Kalisat, Jampit, at an altitude of 1,200 meters. A tourist inn, Pondok Wisata, also offers accommodation in Paltuding, besides a camping ground. Masks, glasses and wet handkerchiefs are needed for protection against toxic fumes from the crater. By following the path worn down by sulfur miners, climbers will not get lost.At the peak, a green crater can be observed at a height of 2,368 meters above sea level, with a total area of 5.5 hectares and caldera walls 300 to 500 meters high. The lake's water, totaling 200 million cubic meters in volume, can reach 200 degrees centigrade. With a depth of 200 meters, the lake is so acidic that it can dissolve clothes and human fingers.

Source: The Jakarta Post


Get This 4 Column Template Here
Get More Templates Here